Al-Qur'an menggambarkan dua sosok manusia tegar dalam mengemban titah Tuhannya. Betapa tidak, Ibrahim as sebagai ayah harus merelakan buah hatinya, Ismail as untuk disembelih. Ismail as belum lagi dewasa. Para mufasir menyebutkan usianya barumenginjak 13 tahun. Apa boleh dikata, inia adalah perintah yang harus dilaksanakan walaupun terkesan tidak masuk akal. Keduanya hanya bisa pasrah dan tawakal.
Ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita peroleh dari dialog robbani singkat diatas. Pertama, sosok Ibrahim as sebagai ayah yang
dialogis. Lihatlah betapa bijaknya seorang ayah meminta pendapat anaknya sebelum merealisasikan mimpi itu. Sebab, mimpi nabi merupaan wahyu Tuhan. Nabi mulia ini menempuh jalan dialog terlebih dahulu.
Nabi Ibrahim terlihat sangat akrab dengan Ismail. Tergambar bahwa Ibrahim paham dunia anaknya. Beliau tidak ingin merusak keakraban itu sehingga pesan Allah tetap disampaikan tanpa paksaan.
Ayah yang baik adalah ayah yang
anak-anak merasa sejuk di dekatnya. Bukan ayah yang malah membuat anak lari. Seorang ayah perlu bertanya pada dirinya, mengapa anaknya lebh sering ikut main ke rumah teman-temannya dan tak pernah mengajak mereka berkumpul di rumah. Jangan-jangan ia tidak berani karena ayahnya tidak familier dimatanya.
Ayah atau ibu yang sebagai figur masyarakat, pejabat, bahkan seorang dai seolah hidup untuk orang lain, tetapi bukan untuk keluarganya. Sehari-hari motivasinya adalah memperluas relasi dengan kolega atau jamaah, disaat bersamaan lalai memperbaiki komunikasi dengan keluarga.
Kedua, sosok Ismail sebagai anak yang penurut. Kepatuhan Ismail menerima seruan Allah SWT melalui ayahnya sungguh luar biasa. Kepatuhan itu disebut oleh para mufasir sebagai alingamat kesabaaran yang tinggi dan kelapangan dada seorang Ismail dalam memikul ujian yang sangat besar diusianya yang sangat belia.
Kepatuhan Ismail itu adalah buah dari kesalehan individunya. Kesalehan itu tidak lahir secara instan. Namun, kesalehan Ismail lahir dari tarbiyah nabawiyah dalam rumah tangga Ibwahim. Sang ayah pandai memilih calon ibu yang pantas untuk melahirkan generasi yang saleh.
Ketiga, kesiapan melakukan instruksi. Ibrahim dan Ismail menyambut seruan Allah SWT dengan kesiapan mental dan keimanan yang kokoh. Dalam menjalankan perintahNya, kita lebih dituntut menjalani dan meyakini sepenuhnya tanpa banyak pertimbangan.
Sering kita terjebak menilai logis atau tidak logis, relevan atau tidak relevan, dalam beramal saleh. Kita sering menggunakan hitungan matematika. Dengan itu setan bisa menjebak kita dengan kekhawatiran dan pertimbangan yang kita buat sendiri.
Penalaran terhadap sebuah instruksi dalam agama untuk menemuka hikmah dan filosofi kadang memuculkan polemik. Dalam hal fiqih, misalnya, terjadi perbedaan apakah perintah atau larangan Tuhan itu sifatnya ma'qul al-ma'na (rasional) atau ghairu ma'qul al-ma'na (irasional), tabbudi (semata ibadah) atau ta'aqulli (bisa dinalar).
Alqur'an mengajak kita berguru pada nabi Ibrahim dan Ismail. Belajar dari ketegaran menjalankan instruksi. Respons luar biasa keduanya merupakan gambaran keimanan yang kuat. Sebab, jangan harap orang yang imannya lemah bisa cepat tanggap menerima instruksi, apalagi all out menjalankannya.
Keempat, Ibrahim sebagai teladan sepanjang masa. Nabi Ibrahim telah ditahbiskan sebagai sosok yang pantas diteladani. Figur beliau amat mendominasi dalam Alqur'an. Dialog diatas hanya satu fragmen dari kehiudupan beliau. Setiap sisi kehidupan beliau sarat dengan nilai-nilai tauhid, pengorbanan, heroisme, dan kasih sayang. Beliau dapat menjalani setiap perannya dengan sempurna sebagai seorang nabi, pemimpin kaum, dan kepala keluarga sekaligus.
Allah berfirman : "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummah (imam) yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)," (QS An-Nahl : 120)
Seyogianya kita pun harus demikian. Keteladanan nabi Ibrhaim terlalu berharga untuk dilewatkan. Sesunngguhnya Allah telah menghimpun pada diri Ibrahim dan putranya, Ismail, berbagai keutamaan. Sekarang tinggal kita sebagai orang yang beriman, apakah sudah mengambil banyak pelajaran dari kisah-kisah keluarga Ibrahim as untuk bekal kehidupan kita.
0 comments:
Post a Comment